Minggu, 22 Maret 2009

Kesunyian malam

Malam masih tetap bernyanyi
Malam masih saja berbisik
Kupinjam telinga sang bayu
Tuk dengarkan kabar dari sang malam

Bertanya ku pada malam
Siapa aku
Bertanya ku pada malam
Apa aku

Ku menangis di bahu malam
Ku tertawa bersama malam
Sendiri
Tanpa arah

Kemanakah wahai malam
Tawa-tawa itu
Mengapa air mata yang kudengar
Wahai malam
Terima kasih

Jumat, 16 Januari 2009

Untuk Ulama

Dalam kemahatahuanmu
Dalam kesombonganmu
Dalam semua jalan yang kau anggap benar
Dalam semua jalan yang kau anggap salah
Terlalu banyak yang kau lihat adalah akhir
Terlalu banyak yang kau lihat adalah awal
Kesombonganmu untuk mengatakan salah
Kesombonganmu untuk mengatakan benar
Tanpa kau lihat dari samudera yang lain
Tanpa kau lihat dari benua yang lain
Wahai ulama
Kesombonganmu adalah kemalangan umat
Engkau bukan Tuhan
Engkau adalah makhluk Tuhan

Senin, 08 Desember 2008

Aku adalah

Aku adalah sendiri
Seperti nyanyian bayu
Dan rembulan

Aku adalah ramai
Seperti nyanyian hujan
Dan bintang

Dalam diam
Dalam ramai
Aku adalah aku

Dalam tenang
Dalam ragu
Aku adalah aku

Senin, 03 November 2008

Nyanyian Tuhan







(sebuah puisi terpanjang karyaku)

Dalam genggaman Tuhan



(sebuah puisi terpendek karyaku)

Senin, 27 Oktober 2008

Dimana engkau wahai mentari

Seperti malam-malam yang berlalu
Seperti malam-malam yang sunyi
Seperti malam-malam tanpa rembulan
Seperti malam-malam tanpa bintang

Oh mentari dimanakah dirimu
Hingga kini tak kutemukan dirimu
Oh mentari tlah kucari dirimu
Di utara
Di Selatan
Di bara
Di timur
Namun malam tidak kunjung pergi

Wahai mentari
Lihat aku disini
Atas sinarmu
Yang telah engkau beri

Wahai mentari
Jangan engkau biarkan diriku tuk tenggelam
Dalam gelapnya dunia
Dalam gelapnya derita

Wahai mentari
Kurindu senyummu
Atas semua tawa yang kau beri
Dan cahaya yang membelai wajah hatiku

Duhai mentari
Telah kering air mata ini
Menanti senyummu dan kicau para burung

Duhai mentari
Bawalah aku ke tempatmu
Tanpa ragu
Dan beri senyum itu
Hingga tiada lagi air mata yang kan menetes

Aku yang tercinta namun terluka

Dalam senyum itu
Ada tangis
Dalam tiap senyum itu
Ada sejuta tangis mendera

Terhimpit akan wangi dunia
Terjerat akan cinta
Terluka atas nama cinta
Sebuah palu besar bertahta cinta

Bukan ini bahagiaku
Bukan ini jalanku
Sedihku melihat engkau menangis
Namun sedihku atas tawamu

Diam dan tertunduk
Tersayat oleh hatimu
Terluka oleh cintamu
Tersiksa oleh bungamu

Ibu
Ayah
Senyummu adalah surgaku
Namun senyummu juga nerakaku

Dan atas semua jalan yang telah kau beri
Bukanlah jalanku
Bukanlah bahagiaku
Bukanlah senyumku

Aku adalah seekor burung dalam sangkar emas
Sedihku melihat langit
Sedihku melihat mereka
Inginku tuk terbang bebas membelah langit

Ibu
Ayah
Biarkan aku terbang
Dan lepas dari sangkar emasmu

Oh Tuhan
Aku bagaikan hambamu di tengah samudera ketidak pastian
Jika mereka tak mampu lepaskanku tuk terbang di langit bumi ini
Angkat aku oh Tuhan
Dan panggil aku kembali ke haribaan-Mu
Yang tenang
Dan buatku merdeka

Oh Tuhan kembalikan aku pada-MU
Panggil aku
Dan tenangkan aku dalam pangkuan-Mu