Malam masih tetap bernyanyi
Malam masih saja berbisik
Kupinjam telinga sang bayu
Tuk dengarkan kabar dari sang malam
Bertanya ku pada malam
Siapa aku
Bertanya ku pada malam
Apa aku
Ku menangis di bahu malam
Ku tertawa bersama malam
Sendiri
Tanpa arah
Kemanakah wahai malam
Tawa-tawa itu
Mengapa air mata yang kudengar
Wahai malam
Terima kasih
Minggu, 22 Maret 2009
Jumat, 16 Januari 2009
Untuk Ulama
Dalam kemahatahuanmu
Dalam kesombonganmu
Dalam semua jalan yang kau anggap benar
Dalam semua jalan yang kau anggap salah
Terlalu banyak yang kau lihat adalah akhir
Terlalu banyak yang kau lihat adalah awal
Kesombonganmu untuk mengatakan salah
Kesombonganmu untuk mengatakan benar
Tanpa kau lihat dari samudera yang lain
Tanpa kau lihat dari benua yang lain
Wahai ulama
Kesombonganmu adalah kemalangan umat
Engkau bukan Tuhan
Engkau adalah makhluk Tuhan
Dalam kesombonganmu
Dalam semua jalan yang kau anggap benar
Dalam semua jalan yang kau anggap salah
Terlalu banyak yang kau lihat adalah akhir
Terlalu banyak yang kau lihat adalah awal
Kesombonganmu untuk mengatakan salah
Kesombonganmu untuk mengatakan benar
Tanpa kau lihat dari samudera yang lain
Tanpa kau lihat dari benua yang lain
Wahai ulama
Kesombonganmu adalah kemalangan umat
Engkau bukan Tuhan
Engkau adalah makhluk Tuhan
Senin, 08 Desember 2008
Aku adalah
Aku adalah sendiri
Seperti nyanyian bayu
Dan rembulan
Aku adalah ramai
Seperti nyanyian hujan
Dan bintang
Dalam diam
Dalam ramai
Aku adalah aku
Dalam tenang
Dalam ragu
Aku adalah aku
Seperti nyanyian bayu
Dan rembulan
Aku adalah ramai
Seperti nyanyian hujan
Dan bintang
Dalam diam
Dalam ramai
Aku adalah aku
Dalam tenang
Dalam ragu
Aku adalah aku
Senin, 03 November 2008
Senin, 27 Oktober 2008
Dimana engkau wahai mentari
Seperti malam-malam yang berlalu
Seperti malam-malam yang sunyi
Seperti malam-malam tanpa rembulan
Seperti malam-malam tanpa bintang
Oh mentari dimanakah dirimu
Hingga kini tak kutemukan dirimu
Oh mentari tlah kucari dirimu
Di utara
Di Selatan
Di bara
Di timur
Namun malam tidak kunjung pergi
Wahai mentari
Lihat aku disini
Atas sinarmu
Yang telah engkau beri
Wahai mentari
Jangan engkau biarkan diriku tuk tenggelam
Dalam gelapnya dunia
Dalam gelapnya derita
Wahai mentari
Kurindu senyummu
Atas semua tawa yang kau beri
Dan cahaya yang membelai wajah hatiku
Duhai mentari
Telah kering air mata ini
Menanti senyummu dan kicau para burung
Duhai mentari
Bawalah aku ke tempatmu
Tanpa ragu
Dan beri senyum itu
Hingga tiada lagi air mata yang kan menetes
Seperti malam-malam yang sunyi
Seperti malam-malam tanpa rembulan
Seperti malam-malam tanpa bintang
Oh mentari dimanakah dirimu
Hingga kini tak kutemukan dirimu
Oh mentari tlah kucari dirimu
Di utara
Di Selatan
Di bara
Di timur
Namun malam tidak kunjung pergi
Wahai mentari
Lihat aku disini
Atas sinarmu
Yang telah engkau beri
Wahai mentari
Jangan engkau biarkan diriku tuk tenggelam
Dalam gelapnya dunia
Dalam gelapnya derita
Wahai mentari
Kurindu senyummu
Atas semua tawa yang kau beri
Dan cahaya yang membelai wajah hatiku
Duhai mentari
Telah kering air mata ini
Menanti senyummu dan kicau para burung
Duhai mentari
Bawalah aku ke tempatmu
Tanpa ragu
Dan beri senyum itu
Hingga tiada lagi air mata yang kan menetes
Aku yang tercinta namun terluka
Dalam senyum itu
Ada tangis
Dalam tiap senyum itu
Ada sejuta tangis mendera
Terhimpit akan wangi dunia
Terjerat akan cinta
Terluka atas nama cinta
Sebuah palu besar bertahta cinta
Bukan ini bahagiaku
Bukan ini jalanku
Sedihku melihat engkau menangis
Namun sedihku atas tawamu
Diam dan tertunduk
Tersayat oleh hatimu
Terluka oleh cintamu
Tersiksa oleh bungamu
Ibu
Ayah
Senyummu adalah surgaku
Namun senyummu juga nerakaku
Dan atas semua jalan yang telah kau beri
Bukanlah jalanku
Bukanlah bahagiaku
Bukanlah senyumku
Aku adalah seekor burung dalam sangkar emas
Sedihku melihat langit
Sedihku melihat mereka
Inginku tuk terbang bebas membelah langit
Ibu
Ayah
Biarkan aku terbang
Dan lepas dari sangkar emasmu
Oh Tuhan
Aku bagaikan hambamu di tengah samudera ketidak pastian
Jika mereka tak mampu lepaskanku tuk terbang di langit bumi ini
Angkat aku oh Tuhan
Dan panggil aku kembali ke haribaan-Mu
Yang tenang
Dan buatku merdeka
Oh Tuhan kembalikan aku pada-MU
Panggil aku
Dan tenangkan aku dalam pangkuan-Mu
Ada tangis
Dalam tiap senyum itu
Ada sejuta tangis mendera
Terhimpit akan wangi dunia
Terjerat akan cinta
Terluka atas nama cinta
Sebuah palu besar bertahta cinta
Bukan ini bahagiaku
Bukan ini jalanku
Sedihku melihat engkau menangis
Namun sedihku atas tawamu
Diam dan tertunduk
Tersayat oleh hatimu
Terluka oleh cintamu
Tersiksa oleh bungamu
Ibu
Ayah
Senyummu adalah surgaku
Namun senyummu juga nerakaku
Dan atas semua jalan yang telah kau beri
Bukanlah jalanku
Bukanlah bahagiaku
Bukanlah senyumku
Aku adalah seekor burung dalam sangkar emas
Sedihku melihat langit
Sedihku melihat mereka
Inginku tuk terbang bebas membelah langit
Ibu
Ayah
Biarkan aku terbang
Dan lepas dari sangkar emasmu
Oh Tuhan
Aku bagaikan hambamu di tengah samudera ketidak pastian
Jika mereka tak mampu lepaskanku tuk terbang di langit bumi ini
Angkat aku oh Tuhan
Dan panggil aku kembali ke haribaan-Mu
Yang tenang
Dan buatku merdeka
Oh Tuhan kembalikan aku pada-MU
Panggil aku
Dan tenangkan aku dalam pangkuan-Mu
Langgan:
Entri (Atom)
